Siang itu aku memenuhi janji seorang perempuan belia namun lebih tua sedikit daripadaku. Aku ingin bercerita padamu, begitu pesan singkatnya. Yeah, ini pasti seseorang yang butuh untuk didengarkan, butuh curhat, butuh konsultasi, dan aku harus mempersiapkan kedua telingaku— walaupun sebenarnya, aku juga tak ahli ahli amat dalam mendengarkan curhatan orang, apalagi melakukan konsultasi ataupun konseling apalagi terapi. Padahal aku ini lulusan psikologi, aneh ya?!
Dan sampailah aku di sebuah kafe di sebuah mall di wilayah Jakarta Pusat. Dan ternyata perempuan itu telah menunggu disana. Aku tersenyum padanya, dan mohon maaf karena sedikit terlambat.
“Pesanlah minum sesukamu, aku hanya ingin didengarkan.” Katanya. Akupun langsung memesan Signature Hot Chocolate kesukaanku. “Apa yang ingin kau bicarakan, Mbakyu?”
Perempuan itu terdiam sesaat. “Tentang cinta di masa lalu.”
Aku menghela nafas. Baiklah, aku siap mendengarkan lagi, walau sudah puluhan kali aku mendengar tema itu.
———-
“Kau tak berubah.” Ucapnya pelan sembari memandangiku.
Aku hanya tersenyum simpul. “Ya jelas tak berubah, belum ada perubahan yang signifikan dari dalam diriku. Yang berubah itu kamu, kamu telah memiliki istri dan dua orang putri.”
Lelaki dihadapanku terdiam cukup lama. Ia terus saja memandangiku. Dan pandangannya tak berubah ketika kami dekat dulu. Aku melihat diriku ada dalam matanya.
“Jujur saja, aku tak bahagia….dan mungkin denganmu, aku lebih bahagia.”
Tuhaaaaann, lelaki ini gila. Sungguh gila. Aku tak tahu harus berbuat bagaimana. Bukankah ia yang dahulu akhirnya memutuskan bahwa kami tidak dapat bersama. Bukankah ia yang dahulu akhirnya memilih menikah dengan perempuan lain yang kini menjadi istrinya. Dan ketika aku telah ikhlas menerima kenyataan itu, mengapa ia kembali padaku dan mengatakan ini semua?!
Dan bodohnya, akupun masih menyimpan rasa.
“Aku memang bodoh, karena dahulu aku tak memilihmu, tak memperjuangkanmu.” Ucapnya dan itu membuat air mataku mengalir. Tapi akan seperti apakah nanti? Bila aku mengikuti keinginanmu, dan keinginanku juga, aku ini mungkin penyebab rusaknya rumah tanggamu, dan masa depan anak anakmu. Aku tak mau itu.
“Kau tahu, pernikahan itu mudah. Ketika ada perempuan seiman, wajahnya cantik, memiliki harta dan keturunan yang baik ya sudah aku menikah dengan istriku ini untuk menyelamatkan keadaanku secara logis. Tapi tak ada syarat adanya cinta dalam pernikahan, bukan?” lanjut lelaki itu dengan tenang.
Kuterdiam namun sesungguhnya kuberfikir. Antara hati dan fikiranku berkecamuk hebat. Ia menawarkan apa yang mungkin dapat membahagiakan hatiku, tapi bukan itu jalan yang terbaik.
“Yeah, kau memang bodoh karena dahulu kau tak memperjuangkanku dan tak memilihku. Tapi kau kini lebih tolol bila saat ini memilihku dan memperjuangkanku. Keadaan kita sudah berbeda.” Ungkapku perlahan dan itu cukup membuatnya mendelik seketika.
Kuhirup nafas perlahan. Hati kupinta tuk berdoa, benar-benar berdoa agar semoga nurani tak tercampur oleh nafsu sesaat.
“Mas, kembalilah pada istrimu. Dialah yang berhak atas cintamu, bukan aku. Karena kau menikahinya merupakan janji yang kukuh dihadapan Tuhan. Bukan sekedar untuk pinjam rahim, bukan?”
Ia masih tercenung menatapku. Aku segera mengeluarkan dompetku dan mengeluarkan dua lembar uang merah Sukarno Hatta, kemudian menyodorkan kehadapannya di meja, sebuah pertanda bahwa aku tak perlu kau bayari untuk makan malam mewah ini.
Akupun segera mengemasi tasku. Ia tiba tiba menarik tanganku. “Kau mau kemana?” tanyanya.
Aku memandanginya sesaat. “Lepaskan. Aku bukan perempuan pengganti yang bertugas untuk membuatmu bahagia.”
———
Perempuan itu menyeruput habis Espresso-nya dan memandangiku.
“Menurutmu, aku bodoh? Aku salah?” tanyanya.
“Definitly Not.” Jawabku lugas. “Terkadang kita tidak dapat memilih jalan yang kita inginkan dan kita impikan, karena itu belum tentu baik adanya. Mungkin jalan itu dapat kita pilih ketika di masa lampau.”
“Yeah…mungkin. Tapi tak ada mesin waktu Doraemon, kan?”
Aku tertawa, “Mbakyu…mbakyu…kita tidak bisa kembali ke masa lalu, yang kita bisa hanyalah menertawakan masa lalu.”
“Hahaha…kau benar, dan ada beberapa orang yang menyesalinya.”
“Tapi mbakyu, kita bisa merancang masa depan. Merancang kebahagiaan.” Ungkapku sembari tersenyum.
26 Desember 2011
-gadis kecil dengan jutaan mimpi-
Teruntuk seorang kawan, “Dan rancanglah kebahagiaanmu dengan tak lagi melihat dirimu di dalam matanya.”






