Feeds:
Posts
Comments

Perempuan Pengganti

Personal flash fiction

Siang itu aku memenuhi janji seorang perempuan belia namun lebih tua sedikit daripadaku. Aku ingin bercerita padamu, begitu pesan singkatnya. Yeah, ini pasti seseorang yang butuh untuk didengarkan, butuh curhat, butuh konsultasi, dan aku harus mempersiapkan kedua telingaku— walaupun sebenarnya, aku juga tak ahli ahli amat dalam mendengarkan curhatan orang, apalagi melakukan konsultasi ataupun konseling apalagi terapi. Padahal aku ini lulusan psikologi, aneh ya?!

 

Dan sampailah aku di sebuah kafe di sebuah mall di wilayah Jakarta Pusat. Dan ternyata perempuan itu telah menunggu disana. Aku tersenyum padanya, dan mohon maaf karena sedikit terlambat.

 

“Pesanlah minum sesukamu, aku hanya ingin didengarkan.” Katanya. Akupun langsung memesan  Signature Hot Chocolate kesukaanku. “Apa yang ingin kau bicarakan, Mbakyu?”

 

Perempuan itu terdiam sesaat. “Tentang cinta di masa lalu.”

 

Aku menghela nafas. Baiklah, aku siap mendengarkan lagi, walau sudah puluhan kali aku mendengar tema itu.

 

———-

 

“Kau tak berubah.” Ucapnya pelan sembari memandangiku.

 

Aku hanya tersenyum simpul. “Ya jelas tak berubah, belum ada perubahan yang signifikan dari dalam diriku. Yang berubah itu kamu, kamu telah memiliki istri dan dua orang putri.”

 

Lelaki dihadapanku terdiam cukup lama. Ia terus saja memandangiku. Dan pandangannya tak berubah ketika kami dekat dulu. Aku melihat diriku ada dalam matanya.

 

“Jujur saja, aku tak bahagia….dan mungkin denganmu, aku lebih bahagia.”

 

Tuhaaaaann, lelaki ini gila. Sungguh gila. Aku tak tahu harus berbuat bagaimana. Bukankah ia yang dahulu akhirnya memutuskan bahwa kami tidak dapat bersama. Bukankah ia yang dahulu akhirnya memilih menikah dengan perempuan lain yang kini menjadi istrinya. Dan ketika aku telah ikhlas menerima kenyataan itu, mengapa ia kembali padaku dan mengatakan ini semua?!

 

Dan bodohnya, akupun masih menyimpan rasa.

 

“Aku memang bodoh, karena dahulu aku tak memilihmu, tak memperjuangkanmu.” Ucapnya dan itu membuat air mataku mengalir. Tapi akan seperti apakah nanti? Bila aku mengikuti keinginanmu, dan keinginanku juga, aku ini mungkin penyebab rusaknya rumah tanggamu, dan masa depan anak anakmu. Aku tak mau itu.

 

“Kau tahu, pernikahan itu mudah. Ketika ada perempuan seiman, wajahnya cantik, memiliki harta dan keturunan yang baik ya sudah aku menikah dengan istriku ini untuk menyelamatkan keadaanku secara logis. Tapi tak ada syarat adanya cinta dalam pernikahan, bukan?” lanjut lelaki itu dengan tenang.

 

Kuterdiam namun sesungguhnya kuberfikir. Antara hati dan fikiranku berkecamuk hebat. Ia menawarkan apa yang mungkin dapat membahagiakan hatiku, tapi bukan itu jalan yang terbaik.

 

“Yeah, kau memang bodoh karena dahulu kau tak memperjuangkanku dan tak memilihku. Tapi kau kini lebih tolol bila saat ini memilihku dan memperjuangkanku. Keadaan kita sudah berbeda.” Ungkapku perlahan dan itu cukup membuatnya mendelik seketika.

 

Kuhirup nafas perlahan. Hati kupinta tuk berdoa, benar-benar berdoa agar semoga nurani tak tercampur oleh nafsu sesaat.

 

“Mas, kembalilah pada istrimu. Dialah yang berhak atas cintamu, bukan aku. Karena kau menikahinya merupakan janji yang kukuh dihadapan Tuhan. Bukan sekedar untuk pinjam rahim, bukan?”

 

Ia masih tercenung menatapku. Aku segera mengeluarkan dompetku dan mengeluarkan dua lembar uang merah Sukarno Hatta, kemudian menyodorkan kehadapannya di meja, sebuah pertanda bahwa aku tak perlu kau bayari untuk makan malam mewah ini.

 

Akupun segera mengemasi tasku. Ia tiba tiba menarik tanganku. “Kau mau kemana?” tanyanya.

 

Aku memandanginya sesaat. “Lepaskan. Aku bukan perempuan pengganti yang bertugas untuk membuatmu bahagia.”

 

———

Perempuan itu menyeruput habis Espresso-nya dan memandangiku.

 

“Menurutmu, aku bodoh? Aku salah?” tanyanya.

 

“Definitly Not.” Jawabku lugas. “Terkadang kita tidak dapat memilih jalan yang kita inginkan dan kita impikan, karena itu belum tentu baik adanya. Mungkin jalan itu dapat kita pilih ketika di masa lampau.”

 

“Yeah…mungkin. Tapi tak ada mesin waktu Doraemon, kan?”

 

Aku tertawa, “Mbakyu…mbakyu…kita tidak bisa kembali ke masa lalu, yang kita bisa hanyalah menertawakan masa lalu.”

“Hahaha…kau benar, dan ada beberapa orang yang menyesalinya.”

 

“Tapi mbakyu, kita bisa merancang masa depan. Merancang kebahagiaan.” Ungkapku sembari tersenyum.

 

26 Desember 2011

-gadis kecil dengan jutaan mimpi-

 

Teruntuk seorang kawan, “Dan rancanglah kebahagiaanmu dengan tak lagi melihat dirimu di dalam matanya.”

stand up for love

Siang tadi saya diajak hang out oleh teman waktu KKN di kampus dulu. Dan tak menyangka, dia memberikan undangan pernikahannya.
Dengan teman dalam satu tim KKN juga.
Dan saya tau cukup banyak kisah mereka.

Salut. Mereka benar benar memperjuangkan cinta mereka hingga pernikahan.
Walau tak mudah, aral melintang pastilah ada.
Dari soal pekerjaan dan restu orang tua.

Tentunya memakan waktu yang tak sedikit. Dari ketemu ketika KKN di tahun 2008 hingga kini.

Pasti penuh dengan kegalauan. Tangis dan air mata. Namun pada akhirnya mereka mencapai itu semua, pastilah bahagia.

Saya kog belum pernah ya memperjuangkan cinta seperti itu? Apa karna saya orang yang takut terluka? Lelah akan beban hati dan waktu yang harus ditanggung? Ataukah orang yang saya cintai tak mau di perjuangkan?

Entahlah.

25 Desember 2011
-gadis biasa-haruskah berdiri untuk memperjuangkan cinta?

Bersetia pada ilusi

Bersetia pada ketidakpastian.
Bersetia pada hal yang tak nyata.
Bersetia pada mimpi indah namun tiada langkah kongkrit.

Bersetia pada ilusi.

Gambling.
Atau mungkin, judi?!

Dan aku adalah perempuan yang sangat denotatif.

If you know a place to crying out this night, please tell to me.

-migit-

Di Dalam Taksi Malam Itu

 

Kamis (3 november 2011) itu saya ketinggalan KRL jam 21.10 karena saya masih harus mengikuti rapat yang menarik perhatian saya. Ya, rapat para direksi SDM beberapa BUMN besar yang membahas talent pool. Tapi bukan ini yang ingin saya ceritakan. Saya ingin cerita hikmah karena saya ketinggalan KRL dari stasiun tanah abang.

Ngenes! Karna saya telat 5 menit saja. Padahal saya sudah ngejar waktu dengan naik ojek dari kantor. Dan KRL selanjutnya adalah jam 23.10. Itu adalah KRL terakhir dan paling malam. Bayangpun harus menunggu 2 jam. Saya memang pernah beberapa kali naik KRL terakhir itu karna alasan pekerjaan. Rasanya sepi, rada horor dan kebanyakan laki laki. Satu gerbong isinya hanya 5-12 orang. Dan sampe rumah (serpong) jam 24.00…benar benar kereta tengah malam.

Kembali pada kamis malam itu. Awalnya saya langsung lemes karena saya harus naik kereta tengah malam dan malam jumat lagi. Agak merinding juga saya. Tapi tiba tiba ada tiga orang laki laki di dekat loket tiket yang ternyata bernasib sama seperti saya. Bahkan satu diantara mereka ada yang cuma telat 1 menit. Dan ternyata ketiga laki laki itu mau pulang ke serpong juga.

Tanpa banyak ba-bi-bu, saya dan tiga laki laki itu memutuskan untuk naik taksi bersama.

Awalnya saya ngeri karena saya satu satunya perempuan dalam taksi itu. Tapi saya merapal doa dan meyakinkan diri bahwa tidak akan terjadi apa apa, maka Bismillah sajalah.

Tak disangka, di dalam taksi justru keakraban yang terjadi. Kami berkenalan satu persatu. Dari pemuda yang duduk di depan namanya bang junet, asli dari Medan, sedang kuliah di IKJ dan mahir bermain piano. Walaupun sudah berkeluarga, ia tetap semangat belajar dan berjalan dalam passionnya.

Di belakang bang Junet, ada mas Yusuf, lelaki asli Gresik ini seorang desain grafis, marketingnya Gold Center Market, alias proyek pasar Cikini yang akan jadi pusat emas Indonesia. Ia panjang lebar menceritakan proyek itu.

Yang duduk di samping Mas Yusuf juga disampingku adalah Pak Taslim, seorang trainer di ESQ. Beliau begitu ramah dan tampak bijaksana. Kenalannya banyak, dari tukang bubur kacang ijo yang terkenal di daerah Pejompongan sampai pengusaha Eka Tjipta.

Supir taksinya pun tak ketinggalan tuk berkenalan. Namanya siswadi, tapi ia ingin dipanggil Ebiet karena ngefans sama Ebiet G. Ade. Cara bicaranya yang ngapak membuat kami semua langsung menebak asalnya.

Malam itu begitu menyenangkan. Ketika kita dipertemukan dengan nasib yang sama yaitu ketinggalan KRL, dan akhirnya disatukan dalam sebuah taksi dan berbagi kisah kehidupan.

Mungkin inilah sisi lain Jakarta, yang tak hanya ada rentetan rutinitas kerja dan hura hura. Masih banyak orang baik di Jakarta. Masih ada humanisme di Ibukota.

8 November 2011
-gadis kecil dengan jutaan mimpi-

Sebuah Pelajaran Berharga

Beberapa hari ini saya mengalami kejadian yang luar biasa dan membuat saya merenung kembali. Mencari sisi positif dari hal hal yang mungkin menyakitkan atau membuat galau.

Ketika kita berhubungan dengan orang lain, gesekan pastilah selalu ada. Saya yakin, tidak ada orang yang tak memiliki masalah dengan orang lain. Baik hubungan dalam dunia nyata maupun maya.

Walau etika sudah ada, tetap saja ada salah paham, salah persepsi bahkan sengaja menjatuhkan.

Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Dan setiap orang pernah merasa sakit hati.
Dan saya adalah tipe orang yang cepat minta maaf, berkali kali minta maaf dan mudah memaafkan karena mudah lupa. Lupa kesalahannya,lupa juga dengan hubungannya.

Namun, saya akhirnya mengerti. Ternyata kita harus berterima kasih pada orang yang menyakiti kita. Tanpa dia, kita tak bisa belajar bijak.

Bukankah karena tersakiti, kita jadi belajar tuk tak menyakiti?!
Kemudian setelah sakit hati, pilihan pilihan menjadi terbuka, apakah akan reaktif membalas atau diam menahan diri tak larut terbawa emosi. Dan sakit hati itu merasuk jiwa, akan ada pilihan lagi, apakah kita akan simpan dendam ataukah memaafkan.

Memaafkan kesalahan namun tetap berusaha menjalin hubungan yang baik dengan orang tersebut. Forgive but not forget.
Forgive and try to get the best.

Sekali lagi, kita perlu berterima kasih pada orang yang menyakiti kita. Tanpa dia, pilihan hidup yang luar biasa tak akan terbuka. Tanpa dia, kita tak berproses tuk menjadi bijak.

30 oktober 2011
-gadis kecil dengan jutaan mimpi-

Setiap manusia pasti pernah merasakan kehilangan. Karna hakikatnya hidup itu adalah rentetan episode kehilangan, kata seorang teman. Kata Letto dalam lagunya ‘memiliki kehilangan’, kita itu merasakan kehilangan karna kita merasa memiliki.

Dan itulah yang kurasakan. Aku punya sahabat dekat semenjak masih memakai putih biru. Kami lewati masa itu bersama. Tetap berkontak selama masa sma dan kuliah karna kami berada di kota yang berbeda. Dia di jakarta,aku di jogja.

Ketika aku akhirnya mendapat pekerjaan di jakarta,kembalilah aku ke tempat masa kecilku. Aku dan sahabatku itu kembali melalui banyak waktu bersama, dari makan bareng, belanja, nyalon sampe tidur dan curhat bersama.

Kini sahabatku menikah dengan lelaki yang mencintainya. Ia terlihat begitu bahagia. Sebuah kebahagiaan yang belum pernah kulihat begitu terpancar di wajahnya. Karna ia mendapatkan sebuah komitmen.

Satu sisi aku bahagia karna akhirnya ia menikah. Namun, ada rasa kehilangan karna kuyakin ia tidak akan punya banyak waktu bersamaku. Kami tidak akan se-fleksibel dalam hang out bareng. Yah, inilah dinamika kehidupan.

Dan yang kuyakin adalah persahabatan kami akan terjaga selamanya. Sepanjang usia yang Tuhan berikan.

On my bestfriend’s wedding, kulafal doa agar kau bahagia selalu. Barakallahu laka wabaraka alaika wajama’ bainakuma fii khoir.

Dedicated to:
Maheka karmanie putri
Congratulations sista for your new life.

16 oktober 2011
-gadis kecil dengan jutaan mimpi-Gambar

Malam.

Terbayang kembali lagu lawas yang dinyanyikan oleh grup yang legendaris, ABBA. The Winner Takes It All. Lagu yang mengiringi cerita film ‘Mamamia’ yang kira-kira dirilis tahun 2008 lalu.

I don’t wanna talk
About the things we’ve gone through
Though its hurting me
Now its history

Kisah tentang Donna dan Sam. Donna yang kini telah memiliki seorang anak perempuan yang akan menikah, harus bertemu kembali dengan cinta di masa lalunya, Sam.

Dalam pertemuannya, Donna mengingat kembali bagaimana ia tak dipilih oleh Sam karena lelaki itu lebih memilih menikah dengan perempuan yang dijodohkan orang tuanya.

Ive played all my cards
And that’s what you’ve done too
Nothing more to say
No more ace to play….

Patah hati dan luka tertera jelas dalam benak Donna. Ia pun sudah mengaku kalah saat itu dan akhirnya menerima takdir, bahwa terkadang kita tidak menikah dengan seseorang kita cintai. Namun, menikah dengan seseorang yang mudah menikah dengan kita dan belajar mencintainya.

The winner takes it all
The loser standing small
Beside the victory
That’s her destiny

Bukankah ia pemenang? Tak terpuruk begitu saja hanya karena Sam tak membersamainya. Tapi, kini ia bertemu kembali. Dalam guratan kening yang bertumpuk. Dalam goresan raut ketuaan terlihat begitu nyata. Berdiri dan tersenyum seakan cinta dan kerinduan itu menyeruak kembali.

I was in your arms
Thinking I belonged there
I figured it made sense
Building me a fence
Building me a home
Thinking Id be strong there
But I was a fool
Playing by the rules

Namun, Donna menyadari, untuk apa diperbincangkan kembali? Untuk merasa tidak diperlakukan dengan adil?! Biarlah masa lalu hanyalah warna kenangan semata.

The gods may throw a dice
Their minds as cold as ice
And someone way down here
Loses someone dear
The winner takes it all
The loser has to fall
Its simple and its plain
Why should I complain.

Pada akhirnya kisah ini, Sam menawarkan kisah masa lalu tuk terulang kembali. Mungkin sebuah pembayaran penyesalannya karena tak memperjuangkan Donna menjadi bagian hidupnya. Dalam kegamangannya Donna hanya menyeruakkan apa yang ia rasa.

But tell me does she kiss
Like I used to kiss you?
Does it feel the same
When she calls your name?
Somewhere deep inside
You must know I miss you
But what can I say
Rules must be obeyed

The judges will decide
The likes of me abide
Spectators of the show
Always staying low
The game is on again
A lover or a friend
A big thing or a small
The winner takes it all

Namun Sam tak akan pernah tahu bagaimana luka akibat angkuhan kepalanya dan kepongahannya dulu. Juga kepecundangannya. Biarlah Donna menyimpannya dalam tetesan air matannya.

I dont wanna talk
If it makes you feel sad
And I understand
Youve come to shake my hand
I apologize
If it makes you feel bad
Seeing me so tense
No self-confidence
But you see
The winner takes it all
The winner takes it all…..

Memang, tidak semua kisah cinta berakhir bahagia. Karena realita dan logika lebih dipercaya tuk mengurusi kehidupan.

Atau mungkin menunggu puluhan tahun untuk mencapai bahagia itu?

Seperti Donna dan Sam.

 

28 Juni 2011

Teruntuk seorang teman yang memintaku menulis tentang ini. Sakit karena patah hati itu pasti, namun jadilah pemenang untuk berdiri dan kembali melangkah.

dan juga untuk diriku sendiri.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.